Jumat, 22 September 2017

Mbah No


Pagi ini tak beda jauh dengan pagi sebelumnya. Matahari masih belum tinggi. Bahkan semburatnya belum begitu terlihat. Tapi, itu tak membuat jalanan depan rumah menjadi sepi. Beberapa motor dan sepeda onthel melintas silih berganti. Kebanyakan mereka adalah penjual yang menjajakan dagangannya. Ada penjual sayuran, ada penjual tahu, penjual tempe, ada juga penjual ayam kampung.
Di antara penjual-penjual tersebut, yang menarik perhatianku adalah penjual ayam kampung. Aku memanggilnya dengan sebutan Mbah. Namanya Mbah No. Orangnya baik dan murah senyum. Sebenarnya bukan hanya penjual, tapi juga pembeli yang membeli ayam dari rumah ke rumah untuk dijual lagi ke pasar.
Mbah No ini sudah lama menjalankan pekerjaannya. Mungkin sejak aku belum lahir. Karena saat aku kecil, beliau sudah berjualan keliling kampung. Dulunya, Mbah No juga merupakan langganan Mbah Buyutku yang kerap kali menjual ayam peliharaannya yang sudah besar. Makanya, beliau taka sing bagiku. Apalagi dulu seringkali beliau memberiku uang saku.
Berbekal sepeda onthel tuanya, beliau setiap hari menempuh jarak kurang lebih dua puluh empat kilometer. Kebayangkan bagaimana capeknya? Belum lagi, usianya yang tidak lagi muda, namun semangatnya masih menyala. Senyumnya yang ramah seakan menegaskan bahwa beliau mencintai pekerjaannya. Melihat Mbah No lagi, aku jadi malu. Seharusnya aku bersyukur dengan pekerjaanku yang terkadang memang sangat menguras pikiran, bukan mengeluhkannya.
22 September 2017
Pict by google.com
#30dwc #30dwcjilid8 #squad2 #day27 #syukur #harapan #belajarbersyukur

Tidak ada komentar:

Posting Komentar