Pagi ini tak beda jauh dengan pagi sebelumnya. Matahari
masih belum tinggi. Bahkan semburatnya belum begitu terlihat. Tapi, itu tak
membuat jalanan depan rumah menjadi sepi. Beberapa motor dan sepeda onthel
melintas silih berganti. Kebanyakan mereka adalah penjual yang menjajakan
dagangannya. Ada penjual sayuran, ada penjual tahu, penjual tempe, ada juga
penjual ayam kampung.
Di antara penjual-penjual tersebut, yang menarik
perhatianku adalah penjual ayam kampung. Aku memanggilnya dengan sebutan Mbah. Namanya
Mbah No. Orangnya baik dan murah senyum. Sebenarnya bukan hanya penjual, tapi
juga pembeli yang membeli ayam dari rumah ke rumah untuk dijual lagi ke pasar.
Mbah No ini sudah lama menjalankan pekerjaannya. Mungkin
sejak aku belum lahir. Karena saat aku kecil, beliau sudah berjualan keliling
kampung. Dulunya, Mbah No juga merupakan langganan Mbah Buyutku yang kerap kali
menjual ayam peliharaannya yang sudah besar. Makanya, beliau taka sing bagiku. Apalagi
dulu seringkali beliau memberiku uang saku.
Berbekal sepeda onthel tuanya, beliau setiap hari
menempuh jarak kurang lebih dua puluh empat kilometer. Kebayangkan bagaimana
capeknya? Belum lagi, usianya yang tidak lagi muda, namun semangatnya masih
menyala. Senyumnya yang ramah seakan menegaskan bahwa beliau mencintai
pekerjaannya. Melihat Mbah No lagi, aku jadi malu. Seharusnya aku bersyukur
dengan pekerjaanku yang terkadang memang sangat menguras pikiran, bukan
mengeluhkannya.
22
September 2017
Pict
by google.com
#30dwc
#30dwcjilid8 #squad2 #day27 #syukur #harapan #belajarbersyukur

Tidak ada komentar:
Posting Komentar